Piala Dunia 2026 memang usai saat peluit akhir ditiup pada 19 Juli, tetapi gelombang gaya yang menyertainya tak serta merta padam. Tren kolaborasi blokecore menjadi salah satu warisan kultural turnamen, muncul dalam bentuk jersey, sepatu, dan produk lifestyle yang menggabungkan kebaruan dengan rasa nostalgia.

Perpaduan antara estetika stadion dan kultur pop melahirkan rilisan yang jadi pembicaraan. Dari reinterpretasi siluet ikonik hingga koleksi gelas bertema turnamen, berikut kilas balik enam kolaborasi paling menonjol yang hadir berbarengan dengan Piala Dunia 2026.
Kolaborasi blokecore: sorotan utama rilisan Piala Dunia
Sekumpulan kolaborasi yang muncul selama ajang ini memperlihatkan bagaimana merek dan kreator saling bertemu untuk menciptakan produk yang bukan sekadar suvenir pertandingan. Mereka menonjolkan ciri khas masing-masing—entah lewat motif, potongan oversized, atau sentuhan artistik—sehingga setiap rilisan terasa seperti crossover antara gaya hidup dan identitas tim.
Cactus Jack x Nike: menghidupkan kembali Total 90
Kerja sama antara Travis Scott melalui label Cactus Jack dan Nike membawa kembali semangat awal 2000-an lewat reinterpretasi Nike Total 90. Koleksi ini mencakup sepatu performa, sneaker kasual, serta apparel berlogo gabungan kedua pihak. Salah satu fokusnya adalah sepasang sepatu bola T90 bernuansa tanah yang diberi reverse Swoosh khas Scott, diikuti jersey grafis berpotongan oversized dan tracksuit pemanasan bertanda Cactus Jack.
Dengan pendekatan tersebut, rilisan ini bertujuan menjembatani estetika stadion dengan kultur streetwear Houston, menyuguhkan produk yang relevan untuk penggemar sepak bola sekaligus komunitas fesyen jalanan.
Ado x adidas: reinterpretasi jersey Jepang
Penyanyi Jepang yang dikenal bernama Ado bekerja sama dengan adidas untuk menafsirkan ulang jersey replika kandang Tim Nasional Jepang 2026. Kolaborasi ini memasukkan elemen visual bernuansa anime, yang menjadi ciri khas dunia artistik Ado, ke dalam desain seragam “Samurai Blue”.
Hasilnya adalah jersey replika dengan motif digital yang halus namun mencolok, lambang khusus, dan tipografi nomor pemain yang berbeda dari versi standar. Koleksi ini ditujukan bagi pendukung sepak bola sekaligus penggemar musik Jepang yang mencari sesuatu lebih berwarna dan personal.
Gelas koleksi McDonald’s: nostalgia yang kembali viral
McDonald’s mengangkat kembali program gelas koleksi yang sempat populer, kali ini disesuaikan dengan momen Piala Dunia 2026. Edisi terbatas ini menampilkan gelas dan tumbler kaca bergaya retro dengan grafis bertema turnamen serta logo Golden Arches, yang diproduksi bekerja sama dengan sejumlah seniman dan organisasi sepak bola.
Perpaduan nostalgia dan hype budaya pop membuat koleksi gelas ini cepat menjadi barang yang diburu kolektor, terutama mereka yang ingin menyimpan kenangan visual dari turnamen sekaligus bagian dari tren barang kolaboratif terkini.
Label dan ikon: Kith, Kappa, dan PEACEMINUSONE
Beberapa label juga memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk menghadirkan karya yang melampaui fungsi fungsional. Ronnie Fieg lewat Kith bermitra dengan adidas Football untuk koleksi Lionel Messi yang menyasar gaya hidup premium. Kapsul ini menawarkan tracksuit rapi, kaus bahan khusus, serta versi adidas Samba suede—disertai jersey bertanda Kith bertema Argentina dengan nomor 10 identik Messi.
Sementara itu, kolaborasi Kappa dengan anime Naruto Shippuden dan peritel Courir menggabungkan estetika shinobi ke dalam jersey sepak bola. Rangkaian ini menampilkan desain vivid, termasuk seragam tandang terinspirasi Akatsuki dengan motif awan merah, serta seragam kandang bertema Hidden Leaf Village, dilengkapi logo Omini khas Kappa di lengan.
Di belahan lain, PEACEMINUSONE milik G-Dragon bekerja sama dengan Nike menghadirkan koleksi untuk Tim Nasional Korea Selatan sekaligus kampanye yang mengaburkan batas antara pakaian atletik dan fesyen avant-garde. Di antara sorotan ada jersey kandang dan tandang Korea yang menampilkan motif daisy halus khas PEACEMINUSONE, serta opsi warna mencolok untuk sepatu bola Nike Cryoshot.
Keseluruhan rilisan itu memperlihatkan variasi bahasa desain yang bisa muncul ketika merek olahraga, label fesyen, artis, dan franchise budaya pop berkumpul. Mereka tak hanya menjual produk, tetapi juga narasi—menghubungkan memori turnamen dengan identitas kreator dan penggemarnya.
Pada akhirnya, gelombang kolaborasi blokecore yang muncul selama Piala Dunia 2026 menandai fase di mana merchandise sepak bola berpadu dengan tren budaya yang lebih luas. Bagi penggemar, rilisan tersebut menjadi cara baru untuk mengekspresikan dukungan sekaligus selera pribadi di luar lapangan.
Baca juga berita lainnya:
