Philipp Lahm menilai krisis sepak bola Jerman bukan sekadar efek dari tersingkirnya tim nasional pada babak 32 Piala Dunia, melainkan gejala masalah yang telah berlangsung lama. Dalam sebuah kolom, bekas kapten timnas itu menyebut ada kegagalan berkelanjutan yang berakar pada praktik dan keputusan selama satu dekade.

Bagi Lahm, akar persoalan adalah kombinasi eksperimen tak terbatas, kepemimpinan yang lemah, serta minimnya pelatih bertaraf dunia yang bisa membangun arah jangka panjang. Ia menyoroti kemunduran adaptasi Jerman terhadap perkembangan global sepak bola dan mengingatkan konsekuensi dari memilih jalur berbeda dibanding negara lain.
Krisis Sepak Bola Jerman dalam Sorotan Publik
Lahm mengungkapkan bahwa terlalu banyak percobaan tak terarah menjadi hambatan utama. Pemain kerap dipasang di posisi yang bukan keahlian mereka, sementara sistem permainan diganti-ubah secara intensif. Menurutnya, perpindahan posisi dan konfigurasi taktik yang sering justru menghilangkan kejelasan peran dan konsistensi performa.
Ia menegaskan bahwa eksperimen semacam itu selalu menjadi kritik utamanya terhadap pendekatan beberapa pelatih. Bagi Lahm, yang paling krusial adalah tercapainya kejelasan dan keteraturan dalam pembangunan tim—bukan sekadar mencari solusi instan lewat rotasi posisi atau variasi taktik yang berlebihan.
Masalah pelatih dan hilangnya pengalaman tingkat tertinggi
Selain soal eksperimen, Lahm menyoroti krisis kepelatihan. Ia menyatakan bahwa Jerman kekurangan figur pelatih dengan pengalaman kompetisi puncak dan kompetensi metodologis yang terus diasah. Menurutnya, yang hilang adalah bekas pemain profesional yang menekuni ilmu kepelatihan sejak tingkat dasar dan mengembangkan kemampuan selama bertahun-tahun.
Dalam tulisannya, Lahm mengutip contoh pelatih bertaraf dunia dari negara lain sebagai tolok ukur: figur-figur yang memiliki pengalaman luas dan konsistensi dalam menerapkan visi sepak bola di level klub dan tim nasional. Kehadiran pelatih semacam itu, menurut Lahm, menjadi pembeda yang kini kurang tampak di Jerman.
Peran federasi dan kebijakan klub
Lahm juga mengkritik posisi federasi sepak bola nasional dalam menangani masalah struktural. Ia menyebut institusi terkait terlalu banyak menekankan forum pertukaran pandangan dan diskusi, namun kurang bertindak sebagai otoritas yang menentukan arah pengembangan sepak bola. Kekurangan kepemimpinan ini, baginya, turut memperlambat perbaikan sistem.
Dia menyoroti pula kebijakan klub-klub Jerman yang acapkali merekrut pemain asing berkualitas namun tidak selalu pada level bintang. Pendekatan tersebut, menurut Lahm, memang menjaga standar tim secara keseluruhan, namun berdampak negatif pada kesempatan bagi pemain muda lokal untuk berkembang dan mendapat menit bermain penting.
Situasi pelatih tim nasional dan kritik terhadap metode saat ini
Lahm menghubungkan kritiknya ke dinamika di kursi pelatih tim nasional, yang belakangan diguncang oleh pergantian kepelatihan. Ia menilai eksperimen tak berujung dan kurangnya kejernihan strategi turut mempengaruhi keputusan-keputusan tersebut. Eksperimen yang sama pula yang membuatnya sering mengkritik pendekatan pelatih sebelumnya.
Meski perubahan pelatih bisa menjadi kesempatan, Lahm mengingatkan bahwa pergantian tanpa visi jangka panjang tidak akan menyelesaikan soal mendasar. Menurutnya, apa yang dibutuhkan adalah sosok dan sistem yang mampu menerapkan keteraturan, bukan sekadar mengganti nama pelatih demi respons singkat terhadap tekanan hasil.
Di bagian akhir tulisannya, Lahm menegaskan bahwa jika Jerman terus mempertahankan kebijakan yang berbeda dari arus global dan tidak menyesuaikan diri dengan perkembangan modern sepak bola, maka negara itu akan terus tertinggal. Untuk keluar dari krisis, ia menekankan pentingnya kepemimpinan, pembinaan berkelanjutan, dan kejelasan strategi di semua level sepak bola nasional.
Baca juga berita lainnya:
